Thursday, June 24, 2010

Short Night Trip

Gw, udah lama ngga berada sedekat itu dengan langit malam.
Dia memeluk dan mendekap daaaaaaaan membelai gw. Dan membuat gw beser karena kedinginan.

Sore hari tanggal 22, dengan impulsifnya gw mengubah rencana renang sore di perumahan sebelah menjadi perjalanan singkat berkunjung ke kebun nilam di Bogor.

Bukan acara wisata, karena sejatinya bokap memanfaatkan kami-kami yang ikut ini untuk nemenin beliau yang lagi survei kerjaan.

Beliau mengiming-imingi adik bungsu gw dengan janji manis makan A&W, yang engga ngerti kenapa bikin bocah satu ini excited abis-abisan. Padahal gw lebih pengen makan KFC. Combo yakiniku!

Beliau mengiming-imingi gw dengan cerita tentang indahnya bukit lokasi kebun nilam tersebut, juga tentang segar dan sejuknya udara di sana.

Gw, sebagai mahasiswa haus liburan, yang belom kesampean melarikan diri dari Jakarta-Depok dan sekitarnya, menyambut baik niat tulus bokap tersebut.

Kami berenam, ditambah partner bokap yang dulu pernah jadi bos gw.

Perjalanan mencapai bukit itu ternyata jauh. Matahari udah ngga ada ketika kami tiba di bukit tersebut.

Sungguh ya teman, awalnya gw menyesal, sedikit merasa tertipu sama bokap. Keindahan yang tadi dilebay-lebaykan oleh beliau itu kan cuma bisa dilihat KETIKA ADA MATAHARI. Naif sekali gw tadi.

Perjalanan mencapai puncak bukit juga ternyata cukup jauh. Jalannya sempit dan berkelok (yaiyalah naik bukit), dengan rimbun pepohonan di kedua sisinya. Sebagian besar udah diaspal, memungkinkan mobil kami melaju dengan kecepatan yang cukup bikin gw amazed karena rasanya kayak ngelewatin green tunnel. (bikin istilah sendiri, #bodoah)

Bukitnya gelap gulita. Cahaya hanya berasal dari mobil kami. Bokap gw menyebut ini, jurit malam. Backsoundnya, suara jangkrik. Dan celoteh rengek adek bungsu gw minta A&W. (tetep)

Tunggu, apa sebenarnya nilam itu? Kata dia, begini.
Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang cukup penting, dikenal dengan nama Patchouly Oil. Minyak nilam bersama dengan 14 jenis minyak atsiri lainnya adalah komoditi ekspor menghasilkan devisa.

Siapapun dan darimanapun nilam ini, ternyata dia tanaman yang manja, karena kecilnya harus ditanam bersama dengan tanaman jagung. Nilam kecil sangat lemah, ngga bisa terkena terpaan angin yang berlebihan, jadi harus berlindung di sela-sela kawanan jagung.

Cukup tentang nilamnya. Setelah jurit malam melewati green tunnel yang kayak ngga abis-abis itu, kami sampai di puncak bukit. Gw yakin ini indah, kalau ada matahari.

Di sana ada penginapan berjejer, gw minta nginep eh ngga boleh sama bapak-bapak yang nyetir.
Di sana ada hamparan kebun teh, kebun jagung, dan tanaman-tanaman lain yang ngga gw ketahui namanya.
Di sana ada bapak Agus dan istrinya, dan kami semua...jalan-jalan malem di bukit! Puji Tuhan yang Mahakuasa, malam itu tidak hujan dan tiada pula becek.

Sekitar satu jam kami berkeliling kebun di puncak bukit tersebut, luasnya entah berapa hektar.
Ada kunang-kunang, tapi cuma satu. Ada lolongan anjing penjaga.

Gak ada bintang, cuma bulan yang hampir purnama.
Gak ada matahari, cuma lampu senter kecil.
Dan gak ada batas antara kami dan langit.

Kalau ada matahari, indahnya kelihatan.
Tapi meski dia ngga ada, indah masih bisa dirasakan.

Gw, udah lama ngga berada sedekat itu dengan langit malam.
Dia memeluk dan mendekap daaaaaaaan membelai gw. Dan membuat gw beser karena kedinginan.

Catatan:
  • Adek gw ngga kesampean makan A&W
  • Gw juga ngga makan KFC. Yang ada, gw makin pengen jalan-jalan
  • Bokap bilang mau ngajak gw ke sana lagi saat ada matahari
  • Glad I came! :) It was a short lovely night trip, after all

0 comments:

 
Blog Template by suckmylolly.com : Header Image by Roctopus