Saturday, March 27, 2010

Ini Fiksi

Kerjanya kini mengira-ngira saja. Statusnya, nyata-nyata terpenjara rasa. Semakin lama, semakin sibuk ia mengeja, mencerna makna di balik kata dan sapa. Menatap matanya ia tak bisa, menghindarinya lebih tak kuasa. Terpesona yang ada. Padahal sungguh, wajahnya biasa. Wanita itu berbeda, katanya. Kenapa?, aku bertanya.

Candanya candu, tawanya madu; mendatangkan kupu-kupu. Bukan pemalu, tidak kemayu. Lugu, membuat termangu. Tuturnya padaku, tersipu malu seperti orang dungu. Dan pria ini meredam rindu, walau sulit dipercaya ia mampu. Mati-matian ingin bertemu, melantunkan lagu, lalu mengaku. Sebatas ingin, sisanya ragu. Menggurat sendu di wajah wanita itu; tetapi toh, si pria mana tahu.
 

Mengira-ngira saja memang, kerjanya kini. Apa-apa tidak berani. Mau mati berdiri ia berusaha membuat janji, berharap selalu bisa bertemu lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Pria ini menjadi lelah sendiri, usaha dan harapnya terkebiri dalam hati. Tak mengenal realisasi, meski hari demi hari tak berhenti berganti. Apa yang memenjaranya kini seperti ilusi tak bertepi, mirip halusinasi. Berwujud mimpi, dengan definisinya sendiri yang semakin kabur dan miskin arti.
 

Dan segalanya menjadi lebih sulit untuk dimengerti, menyedihkan untuk dipahami, terlalu rumit untuk diselami.
 

Dan ini di luar prediksi. Siapa pun tak ingin mengalami.

Ujungnya sendiri, akhirnya sepi, muaranya sunyi.
 

Karena tak ada yang pasti di dunia ini. Sadari!


Earth Hour 2010

0 comments:

 
Blog Template by suckmylolly.com : Header Image by Roctopus