Friday, February 12, 2010

Kepada Perempuan... di tempat.

Disclaimer: really, don't get me wrong reading this entry!


Selamat siang, Perempuan. Assalamualaikum. Ini aku, dirimu yang lain.

Aku sedih melihatmu beberapa hari terakhir ini.

Kamu cemas dan khawatir, kamu kehilangan fokus dan konsentrasi, kamu kehilangan kendali atas hati dan pikiranmu sendiri.
Kamu hendak mengenakan celana panjang di atas celana panjang yang telah kamu kenakan sebelumnya.
Kamu hendak menggunakan shampoo untuk yang seharusnya kau bersihkan dengan sabun.
Kamu acapkali melupakan banyak hal, termasuk rakaat sholatmu.
Kamu menerawang, dan wajahmu aneh.
Kamu menangis sendirian, takut katamu.
Kamu merasakan ribuan kupu-kupu di perutmu.
Darahmu berdesir, dan lihat, jantungmu bekerja ekstra keras.
Kamu terlalu sering menghela napas. Kadang kulihat kau bergetar.
Kamu ingin bicara pada temanmu namun urung. Dan pada akhirnya hanya aku yang tahu, kan?
Kamu tampak menyedihkan. Kerjamu terus dan terus mengenang, berharap saat itu Tuhan benar-benar menghentikan waktu, untukmu.
Kamu tidak lagi berbinar memandangi aktor-aktor tampan yang berlaga di layar laptopmu.

Karena, Perempuan, you are falling  for someone real. Tapi aku tidak tenang, dan sama sekali tidak senang.

Aku kecewa padamu, Perempuan.

Katamu kau pandai menekan perasaan semacam itu, karenanya kau bisa bertahan selama setahun tanpa menjadi serapuh ini. Setahun lebih, bahkan. Sejak namanya mengusikmu, dan kamu terus-terusan berharap bertemu sosoknya. Aku bangga melihat usahamu setahun terakhir. Tapi kini, ketika pertahananmu jebol, aku menjadi tidak tahu harus berbuat apa untuk menolongmu.

Kamu perempuan paling naif yang pernah kukenal. Kamu apa adanya. Sederhana kelihatannya, begitu kompleks sebenarnya.

Aku kasihan padamu, Perempuan.

Sekarang kau tak bisa online dengan tenang, sebab kau menjadi tegang hanya dengan melihatnya online, menjadi gugup hanya dengan sebuah sapaan, menjadi linglung hanya dengan....apapun yang orang itu lakukan.

Sejujurnya aku takut, Perempuan.

Aku takut melihatmu jatuh lebih dalam. Aku takut melihatmu dalam kondisi yang sama seperti yang kulihat saat terakhir kali kau jatuh cinta, entah berapa tahun yang lalu. Aku menilaimu sama sekali belum siap, untuk apapun yang akan terjadi setelah ini, segalanya yang berkaitan dengan orang itu.

Kamu harus berhenti, Perempuan.

Berhenti tersenyum seperti itu, berhenti bermimpi memandangnya, berhenti tertawa seperti orang gila atau melompat girang sendirian, berhenti mengurung diri di kamar, dan... berhentilah menjadi melankolis dadakan.

Kamu jatuh cinta, tapi sekarang aku melihatmu menangis tertekan.

Kamu gila, Perempuan. Aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri. Dan kini, aku mengkhawatirkanmu layaknya aku mengkhawatirkan diriku sendiri.

Sadarlah, Perempuan!

Orang itu memiliki kelamin yang sama denganmu!


Depok, medio 12 Februari 2010



Disclaimer (lagi): ini bukan curhat! I'm straight! 100%!

7 comments:

Abela Yotsu Sanjaya said...

hegh??
Lu lesby???

Nisa Syahidah said...

waduh.. gak baca disclaimernya nih bela..=_=
jangan salah paham..
gw kan gak bilang gw lagi curhat bel..:p

N i s a said...

wkwkwkw... tapi kalau orang yang dimaksud itu cowok masuk juga tuh...

kaget banget deh liat kalimat terakhirnya ==a
dasar si nisa wkwkwk

Nisa Syahidah said...

hehehe..:p

smilingshasa said...

bagus sih, syaaaa
tapi serem bayanginnya
hehe

but still it's good
:)

Nisa Syahidah said...

makasih sha, jangan dibayangin ya :P

nobinobinobi said...

he.

 
Blog Template by suckmylolly.com : Header Image by Roctopus