Catatan: penulis mulai menulis ini dalam gelap, pada suatu dini hari pukul 1:11, di kala kantuk tak kunjung menyerang dirinya, sementara baterai laptop tinggal 28% dan ia malas mencolok-colok kabel. Selamat membaca.
HARUFUWEI (A mis-spelling term of 'Halfway')
Director/writer: Eriko Kitagawa (A veteran TV drama writer)
Writer/producer: Shunji Iwai
Composer: Takeshi Kobayashi
Writer/producer: Shunji Iwai
Composer: Takeshi Kobayashi
Halfway adalah film dimana Okada Masaki tampak berlebihan sekali gantengnya.
Oh, bukan deh. Hehe. Halfway adalah 90 menit yang berkisah tentang pendewasaan hubungan sepasang kekasih; Shu (Okada Masaki) dan Hiro (Kitano Kii), yang sedang berada di penghujung masa SMA mereka di sebuah sekolah di Hokkaido. Film ini memang melulu bercerita tentang keduanya; bagaimana Hiro dan Shu menghadapi konflik batin terbesar sepanjang abad, yakni kekhawatiran berjauhan dengan sang pacar. Ehm. Jadi gini loh, hubungan Shu dan Hiro ini digonjang-ganjing isu LDR aka long distance relationship, mengingat sang lelaki hendak melanjutkan studi di Universitas Waseda, Tokyo, padahal Hiro hanya akan pergi ke universitas lokal di Hokkaido.
Kisah Hiro dan Shu diawali dengan Hiro yang jatuh cinta setengah mati pada Shu yang sangat bersinar di lapangan basket. Menonton Shu bermain di suatu pertandingan, Hiro mendadak sakit dan beristirahat di ruang kesehatan bersama Meme (Riisa Naka), sahabatnya. Ketika terbangun dari tidurnya, Hiro, dengan excitement berlebihan, bercerita kepada Meme tentang mimpi menyatakan-cinta-pada-Shu-yang-ternyata-juga-suka-padanya-hingga-akhirnya-jadian yang ia alami barusan. Hiro pun memutuskan untuk hari itu juga menyatakan perasaannya terhadap Shu. Yang ia tidak tahu (meski Meme tahu) adalah bahwa Shu, yang accidentally juga sedang berada di ruang kesehatan gara-gara mimisan, mendengar cerita penuh excitement Hiro tadi. Dan, once Hiro was about to confess her feeling, Shu mengatakannya duluan; "Would you go out with me?", lalu mereka jadian. :$
Isi film ini selanjutnya adalah adegan demi adegan kebersamaan Shu dan Hiro yang bisa dibilang ngga biasa. Natural, mengalir, sangat unik, begitu, err.. unusual. Dan, ah. Handheld camera! Kamera banyak (seolah, atau benar-benar?) dioperasikan menggunakan tangan, sooooo documentary-alike!
Eh, lanjut ceritanya dulu deng.
Hiro mengetahuinya belakangan, kalau ternyata prianya mengidamkan Waseda University sejak dulu, bahkan sebelum mereka jadian. Takut kehilangan Shu, Hiro mendesaknya untuk membatalkan that Waseda thingy dan tetap bersamanya di Hokkaido. Shu akhirnya memang memilih Hiro dan membuang angannya tentang Waseda, tapi hubungan mereka menjadi aneh setelahnya. Dalam suatu percakapan malas-malasan mereka di telepon, Shu bahkan sempat berkata, (yang entah Hironya denger atau ngga): "Do I really like you?"
Shu gigih memfokuskan diri untuk belajar, sementara Hiro semakin ditelan kebimbangan, tentang apakah keputusannya mempertahankan Shu di sisinya sudah tepat, atau bagaimana ia seharusnya bersikap. Hingga akhirnya ia memutuskan menyeret Shu ke ruang guru, dan, "Please let him go to Waseda University. Onegaishimasu."
Gitu doang? Iya, emang gitu doang.
“An announcement!”
“What the..”
“Shu likes me”
“What’s with that?” – “I’m next?”
“Hiro likes me”
“An announcement!”
“Go ahead”
“I don’t want you to go to Tokyo.” “...I don’t want you to”
Film ini benar-benar sederhana, kawan. Datar. Bahkan tanpa soundtrack macam-macam, jauh dari dramatisasi ala Shokojo Seira misalnya (yang juga ala sinetron Indonesia?). Fokus utama dari awal hingga akhir adalah Shu dan Hiro themselves. Melihat betapa unik interaksi interpersonal yang berjalan; komunikasi verbal berupa dialog-dialog yang terlontar, juga komunikasi nonverbal seperti gestur, ekspresi, intonasi suara, jarak, pandangan mata, sentuhan, atau chemistry yang tercipta antara keduanya. Menarik banget mengamati komunikasi interpersonal antara Shu dan Hiro, apalagi buat gw anak Komunikasi yang notabene udah belajar yang namanya Pengantar Ilmu Komunikasi, Teori Komunikasi, dan Psikologi Komunikasi.
Kekuatan komunikasi interpersonal ini terletak pada improvisasi dan ad-libbed dialogue oleh Okada Masaki dan Kitano Kii. Keduanya menciptakan sendiri emosi, various face expression, irama, naturalitas, dan ritme hubungan yang tak akan membosankan untuk dilihat. Bener-bener tersampaikan kalau ceritanya kedua anak manusia ini (Shu dan Hiro, red.) sedang berada di setengah jalan menuju kedewasaan (halfway, euh?) :D
A-worthy-seen movie, terutama untuk kamu yang tertarik mengamati hubungan antar manusia.








