Fan fiction (alternately referred to as fanfiction, fanfic, FF, or fic) is a broadly-defined term for fan labor regarding stories about characters or settings written by fans of the original work, rather than by the original creator.
See the details here!
It's damn fun, readers! (berasa punya readers, hahaha)
Digarap keroyokan bisa, solo karier juga menyenangkan. Gw udah pernah cerita belom sih? Back to when I was in my first grade of JHS, gw (Komunikasi UI 2008), Rini (TI Trisakti 2008), Kartika (Sastra Korea UI 2008), dan Azy (Sastra Cina UI 2008), menggarap suatu big project fanfiction yang kita buat sampe lebih dari lima-atau enam buku tulis. GREAT DESHOU??? :D :D Well it's all about Captain Tsubasa! SO CHILD-LIKE, LOL.
Kisahnya seputar Tsubasa - Sanae, yang dibumbui terlalu banyak macem-maceman. Misalnya saja dengan kehadiran pihak ketiga, Akira dan Reika.Lalu ada juga project duo maut gw dan Kartika; fanfic Slam Dunk; Kaede Rukawa's Rabu Story! Ceritanya sama adik dari Hanazawa Rui (Hana Yori Dango) Hahahaha.. Oh how I miss my oldschool days :'(
Anyway, this is the latest fanfic I made. Im gonna make a new one soon. (I wish!!). Gw ingin membuat cerita Shidai - Kanata versi sendiri, karena Seigi no Mikata begitu menyebalkan telah menggantungan cerita mereka. Atau tentang Maou couple; my beloved one Ohno dan Rini's Toma Ikuta. LOL.
Here it is: Mika and Hiro from Koizora :D
Mika merasa menjadi gadis paling bahagia sedunia ketika dokter berkata akan memberikan satu hari bebas untuk Hiro, hari ini. Untuk itu ia telah terjaga bahkan jauh sebelum matahari terbit, berkutat di dapur dan membuat bento. Gadis itu juga telah menyiapkan sesuatu untuk diberikan pada Hiro. Harus bahagia ya, Hiro.., gumamnya.
***
"Mika, aku baru tahu kau buruk dalam membonceng orang," canda Hiro dari balik punggung Mika yang tampak kepayahan mengayuh sepeda. Mereka baru saja mengunjungi sekolah, bernostalgia.
"Hiro, bahkan dalam keadaan sakit pun kau berat sekali.."
"Hahahaha.." tawa Hiro berderai. Tangannya mengacak-ngacak rambut Mika dari belakang, sebuah aktivitas yang amat disukainya.
"A, Mika, kemana kita sekarang?"
"Tempat kesukaanmu, Hiro,"
Kini mereka duduk berdampingan di tempat itu; sehampar hijau di tepi sungai kecil, di bawah jembatan. Tempat kesukaan Hiro, tempat yang sangat penting bagi mereka berdua.
"Hiro. Bagaimana rasanya, enak?" Yang ditanya hanya mengangguk dengan mulut penuh makanan, tersenyum, kemudian melanjutkan makan.
"Masakanmu tetap enak, padahal aku baru mencobanya lagi setelah sekian lama," ujar Hiro berseloroh pelan. Mika hanya tersenyum pahit. Sekian lama adalah jumlah waktu yang dihabiskan Mika tanpa mengetahui sedikit pun tentang kanker yang menggerogoti tubuh pria paling dicintainya ini.
"Hiro.."
"Ya?"
"Kau tak harus selalu mengenakan kupluk itu kan?"
"Aku tak ingin Mika melihatku tanpa rambut," Hiro tertawa, getir.
"Aku mau,"
"Apa?"
"Mika ingin melihat Hiro tanpa kupluk itu,"
Hiro terdiam.
"Mika, bahkan aku saja selalu menutup mata ketika harus membukanya. Kenapa kamu-----" ucapan Hiro terhenti karena dalam satu gerakan cepat, Mika telah memeluk lehernya, mengusap kupluk yang membungkus kepala botaknya, ingin membukanya namun urung.
"Aku tidak pernah ingin ingat kalau aku akan segera mati," Hiro menghela nafas, kemudian melanjutkan, "...bukalah, mungkin kau memang menyukai pria botak ya?" Hiro mencoba tertawa, lirih. Mika tidak terisak, tapi Hiro tahu wanitanya telah bersimbah air mata di belakang kepalanya.
Mika melepaskan pelukannya.
"Hiro, lihat apa yang kubawa untukmu," ujarnya sembari mengaduk isi tas, berusaha menemukan barang yang dimaksud. "Aku membawa sesuatu sebagai pengganti kupluk itu," lanjut Mika.
"Eh?"
"Ini.."
Hiro tercengang ketika Mika menyodorkannya, rambut. Ya, rambut palsu berwarna putih, sama seperti rambutnya di masa sekolah dahulu.
Mika membuka kupluk Hiro, membelai kepalanya yang licin tanpa rambut, ingin tertawa tapi yang keluar malah isak. Ia lalu memasangkan rambut putih Hiro ke atas kepalanya.
"Kau tampak jauh lebih tampan, Hiro.."
"Aku merasa kembali muda, hahaha.."
"Ah, Hiro, ayo berfoto!" ujar Mika bersemangat, mengeluarkan ponsel berkamera miliknya.
"Eh?"
"Cheese~"
"Hiro, sekali lagi!" Mika masih bersemangat demi melihat Hiro dengan rambut putihnya, sampai sehembus angin yang cukup kuat dengan nakalnya menerbangkan rambut palsu milik Hiro.
"Hahahahaha..."
"Aaaaahh~~" Hiro mengambil rambutnya, hendak memasangkannya kembali.
"Hiro, tak perlu. Aku ingin berfoto denganmu yang tanpa rambut itu!" ucap Mika sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka berdua.
"MIKAAAAA~~~!!"
"Tak usah dipasang lagi, Hiro. Mungkin sebenarnya aku memang lebih menyukai pria berkepala botak.."
Mika tertawa, sementara Hiro hanya bisa nyengir sambil mengelus-elus kepala botaknya.
★ FIN ヾ(´∀`)ノ








0 comments:
Post a Comment